Islam dan Visi Kebangkitan Bangsa

Islam dan Visi Kebangkitan Bangsa
Rabu, 24-Januari-2007, 15:12:31

Telah dibaca 192 kali | Kirim Ke Teman!

A MUHAIMIN ISKANDAR
Ketua Umum DPP PKB

Pada awal 1980-an, Dr Soedjatmoko –seperti dikutip Abdurrahman Wahid dalam pengantar umum buku KH A Wahid Hasyim, Mengapa Memilih NU (1985)––mengemukakan sebuah pernyataan menarik bahwa negaranegara industri maju sudah mencapai titik optimal dalam perkembangannya.

Kelebihan yang belum dapat dikejar negara-negara berkembang, kini hanya tinggal di bidang persenjataan. Dalam keadaan demikian, negara-negara berkembang dituntut untuk mengembangkan peradaban (sivilisasi) mereka sendiri. Soedjatmoko memperkirakan munculnya tiga peradaban dunia dari negaranegara berkembang di masa depan yang tidak terlalu jauh, yakni peradaban Sinetik (bersumber pada daratan China) yang meliputi kawasan RRC, Korea, Jepang dan Vietnam; peradaban Indik (bersumber pada keindiaan) dengan lingkup sebagian kawasan Asia Tenggara, Sri Lanka dan anak benua India sendiri; dan peradaban Islam yang membentang dari kawasan Asia Tenggara hingga Maroko di Afrika.

Apa yang diramalkan Soedjatmoko itu tampaknya kini menjadi kenyataan. Peradaban Sinetik, terutama China,sedang mengalami perkembangan dan kebangkitan yang sangat menakjubkan. China saat ini adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dan sekaligus pemilik cadangan devisa terbesar di dunia, hampir mencapai USD1 triliun.

China juga menjadi pelopor terbentuknya SCO (Shanghai Cooperation Organization) yang beranggotakan China, Rusia, Kazakhstan,Kyrgyzstan,Tajikistan, dan Uzbekistan. SCO merupakan kekuatan/ kutub baru yang sedang bangkit bersama dengan bangkitnya Uni Eropa dan Amerika Latin. Sementara India,Korea Selatan, dan Jepang, juga tumbuh sebagai raksasa ekonomi yang tidak diragukan lagi. Karena itu, tidak mengherankan jika dikatakan bahwa kawasan Asia saat ini menjadi pusat gempa ekonomi-politik internasional.

Kebangkitan Islam

Bagaimana dengan peradaban Islam? Meski tidak secepat peradaban Sinetik dan Indik, peradaban Islam juga menunjukkan dinamika dan pertumbuhan yang cukup menjanjikan. Abad ke-15 Hijriah yang didengung-dengungkan sebagai era kebangkitan Islam tampaknya akan menjadi kenyataan jika faktor-faktor pendukungnya bisa didayagunakan dan diproyeksikan secara maksimal dan menyeluruh.

Ada tiga faktor penting mengapa kebangkitan Islam sangat dimungkinkan terjadi.Pertama,peradaban Islam mempunyai modal atau fondasi sejarah yang kukuh.

Menurut Abdurrahman Wahid (1985), peradaban Islam memiliki kebesaran material yang diwariskan pada dunia dalam bentuk legasi arsitektur penuh kemegahan (dari Masjid Pualam Biru di Turki hingga ke Taj Mahal di India); keagungan rohani yang dilestarikan dalam kepustakaan yang masih berjuta- juta dalam bentuk naskah tulisan tangan dan belum dicetak, serta dalam tradisi penurunan ilmu-ilmu dan nilainilai keagamaan dari generasi ke generasi dengan hasil terpeliharanya kebulatan pandangan hidup kaum muslimin hingga kini, dan kelengkapan yang ada pada masa lalu peradaban Islam yang dapat digunakan sebagai alat pengembangan peradaban Islam yang baru di masa depan.

Salah satu syarat mutlak bagi kebangkitan kembali sebuah peradaban dunia sudah terpenuhi oleh peradaban Islam. Syarat itu adalah persambungan elemen-elemen kehidupannya sehingga membentuk kerangka tangguh bagi kebangkitan kembali itu sendiri. Kedua, kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera sebagaimana diproyeksikan globalisasi dan liberalisasi bertahun-tahun yang lalu, ternyata tidak berjalan merata.

Pada sisi tertentu, globalisasi (liberalisasi ekonomi,politik dan budaya) di negara-negara berkembang, termasuk di kawasan masyarakat Islam, justru berjalan seiring dengan meningkatnya angka kemiskinan,kekerasan dan deprivasi relatif,yaitu perasaan tersingkirkan dari berbagai bidang kehidupan. Fundamentalisme, kultus, terorisme,dan bentuk-bentuk radikalisme yang lain berkembang luas. Dalam kondisi demikian, manusia cenderung menengok kembali tradisi dan ajaran agamanya yang agung.

Tidak heran jika banyak kalangan menyebutkan abad ini sebagai abad agama (The Age of Religion). Ketiga, dinamika sistem dunia saat ini ditandai dengan kuatnya arus transisi hegemoni sehingga hampir tidak ada lagi satu kekuatan tunggal yang mendominasi politik dan ekonomi dunia. Dulu selama beberapa abad, kawasan Islam dari Maroko sampai Indonesia dikuasai Barat.Sejalan dengan berakhirnya kolonialisme dan menguatnya transisi hegemoni belakangan ini, dunia Islam pun berkembang secara pesat, mandiri, dan potensial menjadi salah satu kekuatan hegemoni dunia.

Di satu sisi, hegemoni Amerika Serikat sudah semakin berkurang sebagai konsekuensi logis dari munculnya kekuatan- kekuatan baru di dunia, sehingga kebangkitan peradaban-peradaban di luar Barat pun tidak terelakkan.Di sisi lain, negara-negara Uni Eropa cenderung menerapkan kebijakan yang lebih dialogis dengan negara-negara Islam,sehingga kawasan Islam mengalami pertumbuhan yang cukup positif karena semakin berkurangnya intervensi pada masalah dalam negerinya.Rusia saat ini juga terus meningkatkan dialog dan kerja sama dengan negara-negara Islam.

Kebangkitan Bangsa

Di Indonesia, spirit kebangkitan Islam muncul di mana-mana. Spirit itu sekurang- kurangnya ditandai dengan maraknya kegiatan keagamaan dan munculnya berbagai manifestasi gerakan Islam, baik pada level nasional maupun lokal, baik yang mengedepankan Islam sebagai ideologi maupun nilai-nilai universal. Memang ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa banyaknya manifestasi gerakan Islam itu menunjukkan adanya perbedaan yang tinggi di antara sesama pemimpin dan umat Islam dalam menafsirkan ajaran agama dan sekaligus merumuskan konsep perjuangannya.

Keadaan ini bisa menjadi awal berkembangnya konflik berkepanjangan yang tidak lagi jelas ujung pangkalnya. Asumsi demikian bisa jadi ada benarnya jika para pemimpin dan umat Islam terus terperosok dalam egosentrisme dan klaim-klaim superioritas yang justru akan melahirkan kesalahpahaman dan tertutupnya komunikasi antarkelompok. Namun, peradaban Islam bisa belajar dari sejarah kebangkitan Eropa.Kawasan ini berkembang menjadi negaranegara kuat bahkan menjajah berbagai kawasan di Asia, Afrika, dan Amerika, justru setelah mereka konflik dan saling serang satu sama lain dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kecenderungan untuk konflik dan sikap saling menyerang yang selama ini masih melekat di kalangan para pemimpin dan umat Islam,suatu saat pasti akan mencapai titik jenuh, sehingga dimungkinkan lahir kesadaran dan konsensus baru yang akan menjadi landas pacu kebangkitan Islam. Didukung tiga faktor di atas, tentu saja kesadaran dan konsensus itu bisa tumbuh lebih cepat. Kesadaran dan konsensus itu akan lebih kukuh jika dipupuk dengan spirit nasionalisme dan patriotisme, sehingga kebangkitan Islam menjadi bagian integral dari proses kebangkitan bangsa.

Hal demikian bukan sesuatu yang mengada- ada karena umat Islam merupakan bagian terbesar dari bangsa ini. Karena itu, kebangkitan Islam sebagai landasan utama kebangkitan bangsa perlu diletakkan dalam konteks gerakan nasional yang bersumber dari ajaranajaran agama, yang memungkinkan seluruh komponen dan potensi bangsa disatukan sehingga cita-cita nasional seluruh warga bangsa yang merdeka ini bisa diwujudkan.Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu sulit.(*)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s