Pelajaran dari Kemelut PKB

Jalan Terjal Menuju Islah PKB

Oleh: Muh. Hanif Dhakiri

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB 2005-2009

Konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa Pasca Muktamar II PKB di Semarang antara Gus Dur- Muhaimin Iskandar dengan Alwi-Saefullah masih berlangsung sampai sekarang. Kelompok Alwi-Saefullah masih melakukan manuver dan ”ngotot” dengan pendiriannya bahwa mereka lebih berhak menyandang ”PKB yang benar”.

Dilihat dari kaca mata politik, konflik dalam kadar tertentu bisa dimaklumi karena merupakan kodrat, namun jika sudah melebihi batas norma/aturan dan mengorbankan kemaslahatan umat maka akan sangat berbahaya. Meskipun ada justifikasi lain sebagaimana kata KH. Dimyati Rois ”merusak sedikit untuk kemaslahatan umat tidak masalah” tapi dalam batas mana?

Yang menjadi pertanyaan, mengapa terjadi konflik? upaya apa yang harus dilakukan untuk melakukan islah?

Pertanyaan tersebut sangat penting dalam rangka mengakhiri kemelut yang terjadi di partai warga nahdliyyin ini.

Pada pertemuan para kiai yang diadakan di Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibien, Leteh, Rembang (20/05/2005), menyerukan untuk islah diantara kedua kubu. istilah Yahya Staquf sebagai juru bicara dalam pertemuan tersebut akan mengajak menyatukan langkah. Upaya ini dimaksudkan untuk memperbaiki PKB yang saat ini kondisinya carut marut.

Para kiai yang hadir dalam pertemuan itu antara lain KH Muhaiminan Gunardo (Temanggung), KH Dimyati Rois (Kendal), KH Ahmad Baidori (Kudus), KH Maksum Munawar (Krapyak Yogyakarta), dan KH Ubaidillah (Langitan). Dalam forum itu juga hadir Sekretaris Jenderal PKB hasil MLB Yogyakarta, Saefullah Yusuf (SM,21/05/05).

Gagasan islah Saifullah Yusuf yang di back up beberapa kiai di Rembang tersebut merupakan gagasan mulia. Namun, disisi lain kubu Alwi-Saefullah masih tetap menganggap muktamar II PKB di Semarang tidak sah. Sehingga pernyataan mengajak islah tersebut terlihat ”lucu”, karena penolakan terhadap muktamar II Semarang oleh Saefullah tersebut mengisyaratkan bahwa dia tidak mau islah.

Jika saat ini kubu Alwi-Saefullah mengajak islah, DPP PKB hasil muktamar II di Semarang sebenarnya terbuka saja atas upaya itu, tetapi pintu masuknya harus tetap melalui pintu muktamar II di Semarang. Artinya, Alwi-Saefullah harus terlebih dulu mengakui muktamar II di Semarang baru bicara dalam konteks islah . Hal ini sangat penting demi konstitusionalitas dan kontinuitas PKB di masa depan agar eksistensi PKB tetap utuh dan terjaga.

Sementara, KH Abdurrahman Wahid yang sering disapa Gus Dur juga sudah merasa gerah dalam menanggapi kemelut di PKB. Sebagaimana surat pribadi beliau, tanggal 18 Mei 2005, ditegaskan bahwa semua masalah pasca muktamar II PKB di Semarang tetap bisa dan harus dapat diselesaikan melalui pintu masuk muktamar II PKB di Semarang. Gus Dur menambahkan bahwa muktamar II PKB di Semarang sudah berlangsung demokratis dan konstitusional sesuai AD/ART partai dan UU 31 tahun 2002 tentang partai politik.

Saat Gus Dur terpilih sebagai ketua dewan syuro dan Muhaimin Iskandar terpilih sebagai ketua dewan tanfidiyah pada Muktamar II di Semarang, sebenarnya juga sudah membuka lebar-lebar pintu islah. Sikap tersebut diambil dalam rangka perdamaian dan kebersamaan untuk kebesaran PKB di masa depan.

Namun, belum sehari muktamar II PKB di Semarang usai, kubu Alwi-Saefullah justru menggelar rapat khusus di Balai Diklat Srondol Semarang yang secara terang-terangan memutuskan untuk menggelar muktamar tandingan, dan tidak mengakui hasil muktamar II PKB di Semarang (SM,20/04/05).

Mulai saat itulah kemelut di tubuh PKB semakin tidak menentu. Bahkan konflik kedua kubu sudah melibatkan para kiai dan pihak-pihak diluar PKB. Indikasi ini bisa dilihat dari manuver dan akrobat politik yang dilakukan kubu Alwi-Saefullah dengan menggelar pertemuan kiai di sejumlah daerah, mengajukan gugatan/somasi di Pengadilan, meminta Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM) tidak melegalisasi dan menolak kepengurusan hasil Muktamar II PKB di Semarang, dan mengajukan perombakan Fraksi Kebangkitan Bangsa di DPR RI.

Tambahan lagi, kemelut di PKB kali ini, agaknya mencapai antiklimaks saat kubu Alwi-Saefullah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama’ yang rencananya dilaksanakan di Jawa Timur 28-29 Mei 2005 mendatang.

Dengan manuver-manuver seperti itu, partai yang berlambang bola dunia tersebut terkesan hanya mengurusi konflik internal. Sementara jalan untuk mencapai islah masih agak jauh. Padahal, konflik internal selama ini sangat menguras energi dan tidak produktif bagi PKB.

Makanya cukup beralasan apa yang ditulis oleh Sdr Cholidi Ibhar di Harian ini (15/05/05), bahwa konflik PKB menunjukan seakan tak ada lagi kebersamaan, yang ada hanya mengalahkan dan memenangakan, atau merebut dan mempertahankan kekuasaan/jabatan.

Dalam kaca mata politik, manusia secara kodrati memang diciptakan sebagai mahkluk berpolitik (zoon politicon). Di setiap sanubarinya mempunyai hasrat/keinginan. Keinginan tersebut sangat beranekaragam antara satu dengan yang lain. Disinilah sebenarnya awal mula timbulnya konflik diantara sesama manusia.

Demokrasi merupakan pengakuan keanekaragaman bagi manusia. Agar keanekaragaman tidak menjadi ancaman bagi kehidupan dan kepentingan bersama, maka lobi, kompromi, deal, konsesus, sampai pemungutan suara menjadi sebuah keniscayaan.

Pada situasi seperti itu, strategi, adu siasat, penggunaan simbol, penentuan prosedur dan lain-lain, menjadi tak terelakan. Karena hal itu merupakan konsekuensi dari semua proses politik tersebut. Sikap terhadap hasil akhir dari berbagai kemelut itu akan menunjukan wawasan demokratik yang dianutnya.

Pada muktamar II PKB di Semarang, Alwi-Saefullah menunjukan sikap tidak demokratiknya. Ini terlihat saat Alwi-Saefullah tidak mau mengakui hasil muktamar II PKB di Semarang, padahal sebelumnya Saefullah sudah terang-terangan ingin mencalonkan diri sebagai ketua umum dewan tanfidziyah pada Muktamar tersebut.

Sikap tidak demokratik juga ditunjukan oleh AS Hikam. Saat muktamar II PKB di Semarang, dia menjadi pimpinan sidang komisi A, lucunya saat ini dia tidak mau mengakui keabsahan hasil muktamar II PKB di Semarang, alasannya karena dilaksanakan oleh pengurus yang tidak sah.

Terlepas dari itu, setidaknya ada tiga sebab kenapa dua kubu di PKB sulit untuk melaksanakan islah. Pertama, tingginya eksistensi masing-masing kubu. Sudah menjadi takdir jika setiap manusia mempunyai ego, namun ego setiap manusia kadarnya berbeda-beda. Nah, yang paling berbahaya adalah seseorang yang memiliki ego tinggi dan tidak mampu mengendalikannya.

Ini yang melahirkan nalar merasa benar (truth claim) , dipikirannya hanya ada ”kalah-menang”, ”saya benar-kamu salah”, dan dibenaknya tidak ada kompromi, win-win solution, dan jalan tengah. Seharusnya, jika sudah kalah dalam political game, maka harus mengakui kekalahannya, bukan malah melakukan manuver yang akan memperkeruh situasi .

Mau tidak mau, jika kedua kubu ingin islah, maka yang harus dilakukan adalah melepas ego/eksistensi masing-masing. Sudah selayaknya PKB mulai menjalankan roda kepengurusan, bukan sebaliknya mengurusi konflik internal yang hanya mengejar pepesan kosong.

Kedua, adanya kepentingan beberapa pihak di luar PKB. Realitas politik selalu menyajikan pertarungan berbagai kepentingan, salah satu alat yang paling ”digandrungi” adalah partai politik. Pertarungan tersebut jika kita jelaskan memunculkan beragam jawaban, antara lain kepentingan: kekuasaan, jabatan, uang, idiologi dan lain sebagainya.

Tidaklah mengherankan jika saat ini beberapa partai politik yang menyelenggarakan kongres/muktamar mengalami kemelut internal. Peristiwa yang menimpa beberapa partai tersebut bisa saja tidak murni sendiri, tapi bisa di skenario oleh pihak-pihak di luar partai. Politik seperti ini yang sering disebut ”politik belah bambu”.

Pihak luar dimaksud tidaklah berperan secara langsung, biasanya memainkan/memperalat orang partai. Nah, jika PKB ingin mengakhiri konflik, maka orang-orang yang mau diperalat tersebut harus memutus hubungan dengan pihak-pihak luar, sehingga akan murni melihat persoalan, tidak ada kepentingan-kepentingan lain.

Ketiga, dukungan para kiai terhadap satu kubu. Diakui atau tidak, konflik di tubuh PKB sebenarnya merupakan persoalan Alwi-Saefullah secara pribadi yang tidak melibatkan orang lain. Hal ini bisa dilihat saat Rapat Pleno DPP PKB yang memutuskan penonaktifan Alwi-Saefullah karena keduanya masuk Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) dibawah pimpinan SBY-JK, saat itu nyaris tidak ada reaksi yang berarti dari Alwi-Saefullah dan bahkan keduanya legowo meninggalkan jabatan di PKB karena ingin konsentrasi di Kabinet SBY.

Konflik memuncak saat Saefullah mencalonkan diri sebagai ketua umum dewan tanfidziyah. Karena Alwi-Saefullah berhasil melakukan pendekatan pada para kiai, akhirnya Alwi-Saefullah memperoleh kekuatan dan menjadi gerbong besar.

Keterjebakan kiai dalam mendukung salah satu kubu akan semakin menjauhkan islah. Karena para kiai tidak bisa berfungsi sebagai mediator diantara kedua kubu. Seorang kiai, dengan kekuatan karismatiknya, seharusnya menjadi kekuatan yang mampu menjembatani berbagai benturan dan konflik idiologis maupun non idiologis. Sehingga sangat tepat jika saat ini para kiyai menjadi mediator dalam penyelesaian koflik.

Secara ideal, ketiga jalan tersebut menjadi alternatif untuk melakukan islah, namun jika tidak ada kemauan dan kerendahan hati dari kedua kubu, maka janganlah heran jika PKB akan kembali terpecah, yang akhirnya akan membuat warga PKB dan warga nahdliyyin menjadi bingung.

Terakhir, kita semua patut menyimak sindiran Nabi Muhammad yang penah di tulis oleh Alm. M. Cholil Bisri, (Kompas,23/01/1996): ”orang cerdas yang berpenampilan menarik adalah dia yang mampu menguasai diri dan berwawasan masa depan, dan orang yang tidak berdaya adalah dia yang mengikuti apa saja hawa nafsunya.

Sekian dan Wallahualam.

Jakarta, 22 Mei 2005

Tertanda,

Muh. Hanif Dhakiri

Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKB 2005-2009

Kontak Hp: 08122827785.


Pelajaran dari Kemelut PKB (2)

asal masih menggunakan norma-norma dan tidak mengorbankan kemaslahatan umum.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s