RAKYAT, MODAL UTAMA PEMBANGUNAN

RAKYAT, MODAL UTAMA PEMBANGUNAN

Oleh;  Ali Anshori

Asumsi

 

Demak, daerah yang memiliki kesejarahan besar sebagai Kota Wali, kerajaan Islam pertama di Jawa, dan pusat pemerintahan. Catatan sejarah ini memberikan kontribusi atas pembentukan mental dan watak masyarakat demak.

Mayoritas penduduk sebagai umat muslim, didukung keberadaan pondok pesantren yang merata di seluruh wilayahnya, secara sosiologis memberikan catatan atas jaminan keteraturan dan kedinamisan hidup serta diagungkannya akhlak karimah.

Tingginya pilihan pendidikan non formal masyarakat Demak mengisyaratkan minimnya ketergantungan pada pemerintah atau industri sehingga kemandirian dan jiwa enterpreneur akan menjadi pemicu laju perekonomiannya

Di sisi lain, secara geografis Kabupaten Demak memiliki perpaduan antara wilayah agraris dan pesisir. Sehingga sumber daya alam akan membawa masyarakat Demak kepada hasil panen untuk seluruh wilayah demak yang selalu surplus dan berkecukupan gizi.

Sesuai dengan posisi strategisnya sebagai jalur utama pantai utara Jawa (pantura) dan bersebelahan dengan Kudus, Kota Semarang dan Jepara maka Kabupaten Demak berpotensi menyusul ketertinggalan pembangunan untuk mensejahterakan rakyatnya.

Asumsi-asumsi ini selalu menghantui siapapun yang menjadi pemimpin, tokoh, pengamat, peneliti dan berbagai kalangan yang peduli dengan Kota Wali. Salah satu realita yang terasa pahit ketika apa yang ada dalam bayangan menjadi buyar dalam kenyataannya. Bagi sebagian golongan, realita ini hanya akan menjadi bahan diskusi dan pertanyaan yang menarik tapi dilain pihak harus ada implementasi nyata dan bertahap untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut. Dan kita disini dalam kategori yang kedua.

Kekuatan

Pasca terpilihnya pasangan Bupati – Wakil Bupati Kabupaten Demak Drs H Tafta Zani, MM – KH M Asyiq melalui Pilkada memberikan ghiroh pada masyarakat Demak bangkit dari keterpurukan melakukan perubahan menuju kesejahteraan. Sumbatan aspirasi, otoriterisme, sentimen golongan yang selama ini menjadi hambatan telah sirna.

Oleh karena itu Pertama, harapan besar dan semangat rakyat untuk perubahan dengan adanya pemimpin baru yang menjadi pilihan mayoritas merupakan modal utama pembangunan.

Karena dalam analisa system politik , David A. Easton, menjelaskan bahwa dukungan (support) basis merupakan energi bagi system politik untuk mengembangkan Keberlangsungan system. (1965:112-114). Tanpa dukungan masyarakat, pemerintah akan sulit mengimplementasikan kebijakannya.

Kedua, Kebersamaan antara pemerintah dan rakyat merupakan asset demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan. Posisi pemerintah sebagai pamong praja, pelayan dan penentu kebijakan haruslah senada dengan kebutuhan masyarakat. Ini penting, karena kebijakan pemerintah seringkali didasarkan pada asumsi pemerintah atau kebutuhan golongan tertentu sehingga menjadi gamang ketika diimplementasikan.

Dengan menempatkan rakyat sebagai subyek pembangunan akan mendorong partisipasi dan keterlibatan mereka dalam menyukseskan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, lain halnya kalau mereka hanya diposisikan sebagai obyek semata.

Ketiga, berbagai asumsi diatas merupakan nilai lebih yang belum tersentuh dan atau diabaiakan sehingga penting untuk ditelisik dan urai kendalanya sehingga bisa diubah menjadi energi positif yang mempercepat laju pembangunan di Demak. Sumber daya alam merupakan anugerah yang memerlukan pengelolaan dan pemanfaatan secara baik dengan memperhatikan ekosistem sekitarnya. Secara teritorial dan geografis, Kabupaten Demak memiliki keistimewaan dibanding kabupaten lain. Hal ini perlu disadari dan dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat.

Catatan

Pembangunan dengan perbaikan step by step, mengedepankan skala prioritas dan kebutuhan masyarakat menjadi kunci.

Untuk mewujudkan itu selain mengacu Rencana Startegis Kabupaten Demak, RPJP/M atau dokumen lain hasil kebijakan Eksekutif-Legislatif. Bupati-Wakil Bupati wajib menilik janji-janji kampanye pada rakyat. Ini penting karena setiap orang, golongan memiliki catatan kinerja pemimpinnya, hal ini juga sebagai antisipasi munculnya kekecewaan sehingga mengkristal menjadi ketidakpercayaan pada pemerintah.

Komunikasi dua arah antara pemerintah, pengusaha, LSM, Pers, rakyat dan seluruh stakeholders melalui forum formal semisal rapat koordinasi, kunjungan, sidak dsb ini menjadi jembatan komunikasi sehingga berbagai sumbatan, ganjalan dari masing-masing pihak ditemukan solusi dan diatasi bersama. Gerak dinamis seluruh elemen di Kabupaten Demak merupakan satu kesatuan utuh yang saling mendukung dan menguatkan sehingga penting dijaga keseimbangannya.

Maupun komunikasi informal dengan silaturrahmi atau dengan memanfaatkan pihak ketiga dengan metode penelitian, survey dsb. Hal ini menjadi alat ukur obyektif atas beberapa fakta yang muncul, menilai kemanfaatan kebijakan, menjaring aspirasi, tanggapan dsb. Dengan bertemu langsung pada stakeholders/subyek/rakyat secara langsung tanpa ada embel-embel formal biasanya akan muncul komentar yang jujur dan tanpa beban dari responden.

Monitoring dan evaluasi melekat antar stakeholders sesuai dengan kapasitas dan fungsinya. Untuk itu penting memposisikan orang sesuai dengan keahlian. Atas dasar profesionalisme kompetisi menjadi sehat dan sesuai target.***

Disampaikan dalam Dialog Interaktif “Menggagas Pola dan Strategi Pembangunan di Demak Pasca Seratus Hari Pemerintahan Drs H Taftazani, MM dan Drs. H Muhammad Asyiq”, tanggal 11 September 2006

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s