Berharap Kepemimpinan Kaum Muda

Berharap Kepemimpinan Kaum Muda

Oleh: Ali Anshori

(Direktur Semesta Institute Semarang;
dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Politik Universitas Diponegoro
Semarang).


Beberapa politikus muda di Senayan membentuk kabinet bayangan. Menurut
para penggagasnya, kabinet bayangan ini akan menjadi counterpart
pemerintah dalam menjalankan program-program (Suara Merdeka, 27/9). Karena
kabinet ini sebagai bayangan maka struktur kabinetnya juga sama dengan
yang ada di kabinet Indonesia bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.

Manuver para politikus muda DPR ini boleh dibilang cukup kreatif.
Apalagi didasari dengan niat baik yaitu lebih meningkatkan tugas pengawasan
resmi oleh DPR. Meski harus diakui, gerakan ini tidak tertata secara
rapi dan tidak ada institusinya. Gerakan ini hanya sebatas manuver
golongan kaum muda yang membentuk kelompok untuk menjadi pengawas
kebijakan-kebijakan yang dilakukan kabinet sesungguhnya.

Terlepas dari kelemahan tersebut, munculnya kabinet bayangan ini
menunjukan adanya kegelisahan dari anak-anak muda untuk ikut serta dalam
menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa. Maklum, golongan
ini masih memiliki tenaga kuat dan pikiran yang cemerlang. Pikiran dan
semangat kaum muda ini akan berbeda jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh
kawakan yang saat ini masih banyak bercokol di pemerintahan Yudhoyono.
Jika kita mengamati pasukan Yudhoyono maka bisa dikatakan sebagai
generasi tua semua. Rata-rata umur mereka sudah diatas 40-an.

Pasukan Yudhoyono yang paling muda adalah Menteri Negara Percepatan
Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Lukman Edi yang usinya 36 tahun.
Selain umurnya sudah tua, para anggota KIB ini banyak yang merupakan
wajah-wajah lama yang sejak dulu sudah menghiasi hiruk pikuk jalannya
pemerintahan.

Di tengah minimnya solusi yang dibuat oleh tokoh-tokoh tua tersebut
maka sangat wajar bila tokoh-tokoh muda ini mendirikan kelompok
tersendiri. Selain sebagai ajang latihan dan ajang kreasi diharapkan akan muncul
ide-ide segar dari mereka.

Tapi, persoalannya adalah seberapa jauh kemampuan dari tokoh-tokoh muda
ini untuk memunculkan ide segar. Jangan-jangan ide yang ditelorkan
tokoh muda tidak lebih baik dari yang dibawa tokoh tua. Ini yang tidak
boleh terjadi. Sebagai generasi masa depan bangsa maka tokoh muda ini
harus bisa semaksimal mungkin menelorkan ide baru yang lebih cemerlang.
Dalam sejarahnya, ide-ide tokoh muda selalu bisa menghiasai perjalanan
bangsa ini. Tengoklah Semaun, yang umurnya baru 20-an tahun tapi sudah
memimpin partai. Naman-nama lain seperti Soekarno, Hatta, Aidit, Tan
Malaka, dan lain-lain adalah deretan tokoh muda sebelum zaman kemerdekaan
yang ikut membidani kelahiran negeri Indonesia.

Persoalan lain saat kaum muda memimpin adalah bagaimana kemauan dari
tokoh tua untuk memberikan ruang kepada tokoh muda. Karena tradisi partai
politik di Indonesia hingga kini masih terkungkung dengan kekuasaan
tokoh lama di masing-masing partai tersebut.

Tampilnya wajah-wajah lama dalam gelanggang perpolitikan di negeri ini
bisa kita lihat menjelang prosesi Pemilihan Presiden 2009 mendatang.
Saat ini sejumlah nama mulai ramai dibicarakan. Namun, bila diperhatikan
peta politiknya, tampaknya bursa calon presiden masih didominasi
wajah-wajah lama yang sudah terbukti gagal.

PDI Perjuangan sudah membulatkan tekad untuk menyorongkan lagi Megawati
Soekarno Putri, yang sudah terbukti gagal pada Pilpres 2004 lalu.
Partai Golkar juga tidak jauh-jauh dari tokoh-tokoh tua yang selama ini
menjadi penguasa partai. Sebut saja, Jusuf Kalla yang jauh-jauh hari sudah
menyatakan akan menghapus sistem konvensi dalam menjaring kandidat
presiden yang akan diusung partai warisan orde baru ini. Banyak yang
menengarai, dengan cara menghapus sistem konvensi ini maka jalan Kalla untuk
menjadi calon Presiden Partai Golkar akan semakin mulus.

Sementara itu, Partai Demokrat juga masih mengunggulkan figur Susilo
Bambang Yudhoyono. Bagaimana dengan Partai Amanat Nasional, Partai
Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan
Pembangunan? Tampaknya keempat partai terakhir yang disebut ini belum memiliki
kandidat yang jelas. Tapi, partai-partai berbasis umat Islam ini juga
tidak akan jauh-jauh dari tokoh-tokoh kharismatik yang selama ini sudah
bercokol. Sebut saja PKB, yang akan mengusung Abdurrahman Wahid. PAN
dengan Amien Rais-nya. Sedangkan PKS akan memasang nama Hidayat Nur Wahid
yang dipandang paling bersinar di partainya.

Dari situ kita sudah bisa menebak nama-nama calon presiden yang akan
bertarung pada 2009. Tak ada wajah baru. Semua yang diincar partai-partai
adalah wajah lama dengan prestasi yang minim. Bahkan tak sedikit yang
pernah memegang jabatan di pemerintahan dan gagal.

Barangkali kita perlu mencontoh Barack Obama, 42 tahun, yang dicalonkan
menjadi calon Presiden Amerika Serikat pada 2008. Calon yang diusung
Partai Demokrat di Amerika ini akan mengubah citra AS di Indonesia yang
rusak akibat kepemimpinan Presiden Bush.

Tidak adanya tokoh muda yang bersinar di Indonesia menjadi bukti selama
ini bahwa partai-partai politik telah gagal melakukan kaderisasi
tokoh-tokoh muda di masing-masing partainya. Tokoh-tokoh muda tidak diberi
ruang yang memadai oleh tokoh-tokoh tua.

Kini, sudah saatnya sirkulasi elite nasional jangan hanya berkutat pada
tokoh-tokoh lama, yang kebanyakan dari mereka sudah terbukti gagal.
Indonesia di masa depan membutuhkan tokoh-tokoh muda yang bisa menjadi
alternatif dengan gagasan cemerlang. Tokoh-tokohtua harus bisa memberikan
ruang kepada anak-anak muda. Begitu juga, tokoh-tokoh muda harus bisa
memanfaatkan kepercayaan yang diberikan dari tokoh-tokoh tua dengan
sebaik-baiknya. Sekian.

Ali Anshori, S.Ag

Direktur Semesta Institute Semarang; dan Mahasiswa Program Magister
Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang.

Telp: 0811299129

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s