Wajah Lama dalam Pilpres 2009

Wajah Lama dalam Pilpres 2009

Oleh: Ali Anshori

(Direktur Semesta Institute Semarang)

Meski pemilihan presiden masih kurang dari dua tahunan, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sudah terang-terangan menyatakan pencalonannya merebut jabatan RI-1. Sutiyoso yang masa jabatannya menjadi Gubernur DKI Jakarta akan berakhir 7 Oktober ini, menyatakan keinginannya ikut dalam ajang pemilihan calon presiden dengan berbekal pengalamannya memimpin Ibu Kota Jakarta selama sepuluh tahun. Hingga kini Sutiyoso sendiri memang belum memiliki kendaraan politik. Karena itu, dengan deklarasi ini, ia berharap setahun ke depan hal itu akan menjadi ajang penjajakan bagi partai politik ataupun masyarakat yang tertarik mengusungnya.

Munculnya nama Sutiyoso dalam bursa pencalonan Pilpres 2009 menambah deretan nama-nama lain yang sudah muncul sebelumnya. Sebut saja Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri, ketua Umum Dewan Syuro Abdurrahman Wahid, Ketua Umum Partai Golkar yang sudah ingin menghapus konvensi, dan lain-lain.

Tampilnya wajah-wajah lama dalam gelanggang perpolitikan di negeri ini bisa kita lihat menjelang prosesi Pilpres tersebut. Mencutanya sejumlah nama yang mulai ramai dibicarakan menjadi tanda-tandanya. Tapi, bila diperhatikan peta politiknya, tampaknya bursa calon presiden masih didominasi wajah-wajah lama yang selama ini sudah malang melintang dalam jagat politik di Indonesia.

PDI Perjuangan sudah membulatkan tekad untuk menyorongkan lagi Megawati Soekarno Putri, yang sudah terbukti gagal pada Pilpres 2004 lalu. Partai Golkar juga tidak jauh-jauh dari tokoh-tokoh tua yang selama ini menjadi penguasa partai. Sebut saja, Jusuf Kalla yang jauh-jauh hari sudah menyatakan akan menghapus sistem konvensi dalam menjaring kandidat presiden yang akan diusung partai warisan orde baru ini. Banyak yang menengarai, dengan cara menghapus sistem konvensi ini maka jalan Kalla untuk menjadi calon Presiden Partai Golkar akan semakin mulus.

Sementara itu, Partai Demokrat juga masih mengunggulkan figur Susilo Bambang Yudhoyono. Bagaimana dengan Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan? Tampaknya keempat partai terakhir yang disebut ini belum memiliki kandidat yang jelas. Tapi, partai-partai berbasis umat Islam ini juga tidak akan jauh-jauh dari tokoh-tokoh kharismatik yang selama ini sudah bercokol di masing-masing partainya. Sebut saja PKB, yang akan mengusung Abdurrahman Wahid. PAN dengan Amien Rais-nya. Sedangkan PKS akan memasang nama Hidayat Nur Wahid yang dipandang paling bersinar di partainya.

Dari situ kita sudah bisa menebak nama-nama calon presiden yang akan bertarung pada 2009. Tak ada wajah baru. Semua yang diincar partai-partai adalah wajah lama dengan prestasi yang minim. Bahkan tak sedikit yang pernah memegang jabatan di pemerintahan dan terbukti gagal karena tidak menghasilkan perubahan apa-apa pada saat dipercaya memegang amanat.

Sutiyoso misalnya, yang ingin menjabat Presiden 2009 nanti, selama ini dianggap gagal dalam mengelola Jakarta untuk menjadi lebih baik. Selama ini ia juga dikenal gagal dalam menyelesaikan banjir yang hampir tiap tahun menjadi bencana rutin di Ibu Kota. Padahal, Sutiyoso sudah menjadi penguasa di Jakarta selama 10 tahun. Dan anehnya, berbagai persoalan itu semakin menumpuk, mulai dari kemiskinan, kemacetan, pengangguran dan lain sebagainya.

Tokoh lama lain yang juga dianggap gagal adalah Megawati. Dimana putri Soekarno ini sudah pernah diberi kesempatan menjadi orang nomor satu di Indonesia pada 2001-2004 dan ternyata tidak menggunakan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak ada perubahan yang signifikan bagi pemerintahan Indonesia pada saat dipimpin Megawati. Masyarakat juga tidak merasakan situasi lebih baik.

Akibatnya masyarakat menghukum Megawati dengan bukti tidak terpilihnya dia pada saat mencalonkan lagi menjadi Presiden. Padahal, jika kinerja Megawati baik maka masyarakat akan tetap memilih lagi dalam Pilpres 2004 lalu tersebut. Sudah seharusnya, tokoh sekaliber Megawati mengaca diri bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat tingkat bawah. Pada saat Pemilu 1999 memang harus diakui popularitas Megawati memang sangat luar biasa. Sosok Megawati yang saat itu menjadi orang teraniaya membuat partainya menjadi pemenang.

Bahkan, diperkirakan kalau seandainya pada saat itu sistem pemilihan presiden menggunakan pemilihan langsung maka Megawati sangat berpeluang untuk menang. Tapi kondisi itu tidaklah ditemui pada saat Pilpres 2004 lalu, dan kemungkinan juga dalam Pilpres 2009 mendatang.

Fenomana Megawati dan Sutiyoso hanyalah salah satu contoh dimana sebenarnya sudah tidak ada hal yang menarik di mata masyarakat mengenai dua orang tersebut. Keduanya merupakan tokoh lama yang mungkin masyarakat sudah tau track record-nya. Jika demikian maka lebih baik partai politik sebagai institusi yang berhak mengusung calon presiden harus berpikir untuk mengajukan calon alternatif, yang memiliki gagasan cemerlang dan memiliki integritas yang tidak diragukan. Dan ini sebenarnya ada pada tokoh-tokoh muda yang hingga kini belum ada partai politik yang melakukannya.

Tidak adanya tokoh muda yang bersinar di Indonesia menjadi bukti awal bahwa selama ini partai-partai politik telah gagal melakukan kaderisasi tokoh-tokoh muda di masing-masing partainya. Tokoh-tokoh muda tidak diberi ruang yang memadai oleh tokoh-tokoh tua.

Kini, sudah saatnya sirkulasi elite nasional jangan hanya berkutat pada tokoh-tokoh lama, yang kebanyakan dari mereka sudah terbukti gagal. Indonesia di masa depan membutuhkan tokoh-tokoh muda yang bisa menjadi alternatif dengan gagasan cemerlang. Tokoh-tokoh tua harus bisa memberikan ruang kepada anak-anak muda. Begitu juga, tokoh-tokoh muda harus bisa memanfaatkan kepercayaan yang diberikan dari tokoh-tokoh tua dengan sebaik-baiknya. Sekian.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s